Saturday, September 26, 2015

Gunung Parang - Purwakarta (25-26 September 2015)

Gunung Parang - Purwakarta (25-26 September 2015)

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam Sejahtera untuk kita semua nya.

Kali ini saya akan bercerita kembali tentang pendakian gunung.
Sedikit ulasan tentang Gunung Parang yang saya kutip dari Badega parang :
Gunung Parang yang terletak di wilayah kabupaten Purwakarta, adalah gugusan pegunungan batuan andesit purba yang terjadi dari sebuah intrusi, yaitu magma (bahan gunung api) yang menerobos menuju ke permukaan namun keburu membeku sebelum muncul ke permukaan untuk menjadi gunung api. Sejalan dengan waktu, tanah di atas intrusi ini tererosi dan akhirnya memunculkan gunung ini.
Sejauh ini masih belum ada penelitian resmi ataupun tidak resmi yang mendalam dari pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan geologi Gunung Parang ini.

Gunung batu ini sendiri memiliki ketinggian total 963 meter dari permukaan laut, dengan diapit oleh dua bendungan terbesar di Indonesia yaitu Jatiluhur dan Cirata.
Secara administrasi Gunung Parang terletak di Kecamatan Tegalwaru dan menjadi perbatasan antara dua desa yaitu Desa Sukamulya dan Desa Pasanggrahan.

Mitos dan Legenda

Gunung Parang juga dikenal oleh masyarakat Karawang dan sekitarnya adalah Gunung Barang, entah dari mana mereka memperoleh julukan ini.
Di runut dari cerita yang melegenda, bahwa jika ingin memperoleh kekayaan dan kemakmuran, datanglah ke Gunung Parang (aka. Gunung Barang).

Dan sampai saat inipun dibalik keindahan Gunung Parang, masih tersimpan beberapa mitos dan legenda yang beredar di Gunung Parang.

Ada beberapa legenda yang beredar di masyarakat antara lain; Nyai Ronggeng, Ki Pat Tinggi, Ki Jonggrang dan Mbah Jambrong, dan beberapa lainnya, dan masing-masing legenda tersebut saling terkait dan akhirnya berujung pada Kerajaan Padjajaran.

Dan menjadi hal yang wajar jika masyarakat lingkar Gunung Parang masih mempercayai hal-hal di luar nalar yang terjadi seperti teluh (santet), pesugihan, dan lain sebagainya dalam dunia mistis di dunia yang serba modern seperti saat ini.

Masih diperlukan pendalaman sejarah dan budaya yang ada di lingkar Gunung Parang, karena biasanya di balik sebuah legenda, ada sebuah kearifan adi luhung dari nenek moyang sebelumnya. Gunung yang saya daki adalah Gunung Parang yang terletak di Desa Pasangrahan, Kampung Cilele, RT 12 RW 05, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Sejarah yang hilang

Dari segi budaya, masyarakat yang tinggal di lingkar gunung Parang didominasi oleh kultur budaya Sunda. Sejalan dengan perkembangan zaman yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat lingkar Gunung Parang banyak dipengaruhi oleh budaya dari luar.
Namun demikian, budaya masyarakat pada dasarnya tetap bernuansa budaya Sunda dan nilai-nilai agama, terutama agama Islam.

Dirunut dari asal usul nenek moyang masyarakat lingkar Gunung Parang kebanyakan berasal dari wilayah Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya. Namun hal ini masih perlu penelitian lebih jauh tentang asal usul masyarakat yang pertama kali mendiami lingkar gunung ini.

Dari sisi budaya, banyak masyarakat terutama generasi muda yang sudah tidak mengenal adat dan budaya sunda yang menjadi dasar kehidupan mereka saat ini. Dan ini bisa dimaklumi, karena kakek nenek bahkan orangtua mereka tidak menurunkan atau mengajarkan adat dan budaya secara langsung kepada mereka.

Dan dari sisi bahasa pun, masing-masing kampung di lingkar Gunung Parang memiliki aksen bahasa sunda yang berbeda satu sama lain, meski hanya terpisah 2-3 km jaraknya.
Begitu pula dengan karakter dan kehidupan di masing-masing kampung, masing-masing memiliki keunikan dan menambah kekayaan budaya di lingkar Gunung Parang.

Baiklah, kita kembali ke perjalanan saya dan teman saya dalam pendakian Gunung Parang.

Jumat, 25 September 2015

Perjalanan pendakian Gunung Parang ini sebetulnya di rencanakan secara mendadak. Saya bersama Ujey dan teman teman mendaki gunung di Purwakarta merencanakan pendakian ke Gunung Parang Purwakarta satu hari sebelum pendakian. 
Setelah berdiskusi dengan beberapa teman teman, maka diputuskanlah sebuah pendakian yang akan dimulai pada malam hari setelah Isya, dan pulang sekitar pagi keesokan hari nya.


19.00 WIB
Packing semua perbekalan saya dan ujey sudah selesai dan siap untuk berangkat menuju base camp Gunung Parang. 
Disaat tekad sudah mantap untuk pendakian malam, beberapa teman saya mengundurkan diri dalam pendakian dengan beberapa asalan seperti kesehatan yang tidak fit, adanya acara pribadi yang mendadak.

Namun semangat saya dan Ujey dalam mengsukseskan pendakian pun tidak menyurutkan niat saya dan Ujey meskipun hanya dua orang saja.

21.00WIB 
Saya dan Ujey mulai berangkat berdua saja dari Purwakarta, menuju base camp Gunung Parang menggunakan sepeda motor.
membawa dua buah keril, saya berdua tetap melanjutkan perjuangan pendakian.

22.00WIB
kami berdua tiba di basecamp Gunung Parang di Desa Parsanggrahan Kampung Cilele RT 12 RW 05.

Tiba di basecamp kami tidak melihat satu kendaraan pun parkir di tempat parkir basecamp,

Namun ada penjaga basecamp, dan kami berbincang bincang untuk meminta izin melaksanakan pendakian di malam itu. Tidak ada data masuk satu orang pun yang melakukan pendakian Gunung Parang, itu artinya, di Gunung Parang malam itu tidak ada sama sekali pendaki. sempat mengurungkan niat karena Gunung Parang terkenal dengan mitosnya yang seram ddengan adanya makam "Karuhun" di dekat puncak nya. Meskipun demikian kita tetap nekad melakukan pendakian malam tersebut meskpun kita bermalam di Gunung Parang hanya berdua saja.

Gunung Parang adalah gunung yang jarang sekali ada yang ngcamp atau bermalam disana, karena Gunung Parang adalah gunung yang tidak begitu tinggi, sekitar 963mdpl. Dengan trek yang pendek ini, menjadi alasan mengapa Gunung Parang Jarang sekali ada yang bermalam.
22.15 WIB
Setelah mendapat izin dari penjaga setempat, kami langsung berdoa untuk memulai pendakian. 
Perjalanan dimulai dengan memasuki perkebunan warga sekitar. Kemudian disambung dengan jalur dari batu batu andesit. trek yang dilalui langsung menanjak terus menerus, tidak didapati "bonus" selama pendakian.

Saat ini sudah ada Pos pos di beberapa tempat untuk memudahkan pendaki agar tidak tersesat juga. Sesekali ada beberapa tali dari bambu kecil untuk membantu menaiki terjalnya batu yang sangat menukit keatas.
(Foto Pos 1 diambil Siang hari saat turun Gunung)
Kami berdua hanya beberapa kali saja untuk break menghela nafas, dikarenakan "horor" nya suasana malam itu, sehingga kami tidak berlama lama untuk beristirahat. 
24.00 WIB
Setelah kami melewati Pos 3, Tanjakan Taraje, ada sebuah wilayah yang landai dan ada beberapa pohon besar. Ini adalah wilayah yang bisa untuk mendirikan Tenda. Sebuah wilayah yang jika ke arah kanan akan ke Puncak Taraje, dan ke kiri adalah Puncak Utama Tower 1. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan beristirahat disini, meskipun area ini menurut warga sekitar adalah wilayah Babi hutan berkeliaran. Dan, di dekat area ini ke arah puncak ada sebuah makan "karuhun" yang keramat.

Sangat hening, sepi, tidak ada seorang pendaki pun yang ada di Gunung Parang malam itu, beberapa suara aneh terdengar, namun kami tidak berani untuk memeriksa keadaan sekitar. Kami pun mengutamakan beristirahat malam itu.


Sabtu, 26 September 2015
05.00 WIB
Bangun,
Sunrise telah tiba.
Kami pun menikmati keindahan sunrise di Gunung Parang. Beberapa pendaki mulai berdatangan pagi itu yang hendak langsung summits ke puncak.

Kami tinggalkan Tenda dan Keril, dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak utama tower 1. 

(Makan Keramat "karuhun" Gunung Parang")
Jalur yang dilalui lebih curam, perlu kehati hatian, karena trek yang dilalui sangat menantang, ditambah perlunya keahlian memanjat.
















07.00 WIB
kami tiba di Puncak Gunung Parang Tower 1. puncak tertinggi di Gunung Parang. Di depan nya ada lagi Puncak Tower 2 yang sedikit lebih rendah, namun untuk menuju kesana harus menggunakan peralatan memanjak. Karena tidak mungkin didaki oleh pendaki tanpa peralatan tersebut, sangat berbahaya.

Ini adalah beberapa foto dari puncak gunung Parang, yang bisa kita lihat adalah hamparan pegunungan sekitar Purwakarta, Gunung lembu, Gunung Bongkok, Gunung Gede, dll. terlihat juga Bendungan Cirata dan Bendungan Jatiluhur dari atas Puncak Tower 1 Gunung Parang.










Beberapa jam saja kami menikmati pemandangan di Puncak Gunung Parang. Lalu kami bergegas kembali turun menuruni Gunung Parang untuk menyudahi pendakian.










Cukup Sekian perjalanan pertama saya mendaki Gunung Parang. Sangat mengesankan Gunung yang mungil namun penuh dengan tantangan dan memiliki pemandangan yang ruar biasa. 

Salam,
Rizal Riansyah


Wednesday, September 23, 2015

Surabaya Part 10 - Lamongan (14 September 2015 - 23 September 2015)

Surabaya Part 10 - Lamongan
14 September 2015 - 23 September 2015

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatu.
Salam Sejahtera untuk kalian semuanya,

Hari yang baik ini, saya akan bercerita tentang pengalaman saya kembali mengunjungi Kota Pahlawan, Kota Surabaya. Dan juga, Laut daerah Lamongan dengan tujuan FSO Gagak Rimang.

FSO Gagak Rimang berlokasi di laut lepas panyai yang tidak jauh dari Lamongan Shore Base. Sebuah pelabuhan khusus untuk transfer personal dan material gabungan beberapa Company Man dari beberapa perusahaan Oil & Gas Seperti ExxonMobil Cepu Ltd, Petronas, PHE WMO, dll.

Tanggal 14 September 2015, pukul 21.30
Saya bersama kedua teman saya berangkat dari Stasiun Gambir Jakarta menggunakan kereta api Argo Anggrek Malam menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya. Tiba di Surabaya pada pagi hari Pukul 07.00.

Setibanya di Surabaya, saya beristirahat di sebuah hotel sederhana di pusat Kota Surabaya, yaitu Hotel Paviljoen.

Kami menghabiskan hari pertama d surabaya di sana.

Sampai keesokan hari nya yaitu tanggal 16 September 2015 kami berangkat pagi hari menuju ke Lamongan Shore Base.

Dari Lamongan Shore Base saya menggunakan crew boat untuk menuju ke FSO Gagak Rimang yang ditempuh dengan waktu kurang lebih 90menit.

Tiba di FSO Gagak rimang saya mulai bekerja beberapa hari.

Selama beberapa hari saya bekerja di FSO Gagak Rimang. 







Setelah pekerjaan selesai, Saya pulang menggunakan kereta kembali, dengan kreta Argo Semberani, berangkat dari Stasiun Pasar Turi Surabaya pada pukul 17.30 dan tiba di Stasiun Gambir Jakarta keesokan hari nya pada pukul 04.30 pagi.

Salam,
Post By Rizal Riansyah

Sunday, September 6, 2015

Gunung Manglayang 1818 Mdpl - Sumedang (5-6 September 2015)

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua nya.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan menceritakan tentang perjalanan pendakian gunung bersama tim PETA. Sebuah tim pendakian yang merupakan pengembangan dari komunitas pecinta alam HACP dari purwakarta. Cerita ini akan sama dengan cerita yang berada di blog happyadventurecommunity.blogspot.com karena penulis nya sama. :D

Baiklah, sedikit profil singkat tentang gunung yang kami daki, yaitu Gunung Manglayang yang kami kutip dari wikipedia.

"Gunung Manglayang terletak di antara Kabupaten Sumedang dan Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Ketinggiannya sekitar 1818 mdpl. Pemandangannya cukup indah, namun karena relatif kecil, sehingga kurang dikenal oleh pendaki-pendaki gunung pada umumnya.

Gunung Manglayang – gunung yang tidak disebut-sebut dalam Legenda Sangkuriang. Karena dari legenda tersebut diceritakan bahwa perahu dari Sangkuriang telah terbalik dan berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu; tunggul pohon yang tersisa bekas bahan pembuatan perahu Sangkuriang tetap berdiri menjadi Gunung Bukit Tunggul sedangkan tajuknya atau ranting-rantingnya tergeletak menjadi Gunung Burangrang.

Dalam rangkaian gunung-gunung Burangrang– Tangkuban Perahu – Bukit Tunggul –Gunung Manglayang; Gunung Malanglayang yang mempunyai ketinggian ±1818 mdpl, menjadi gunung yang terendah dari rangkaian ke empat gunung tersebut. Mungkin itulah sebabnya di kalangan para penggiat alam bebas gunung ini sempat terlupakan terkecuali para penggiat alam bebas dari Bandung dan sekitarnya. Namun begitu Gunung Manglayang juga menawarkan pesona alamnya tersendiri. Untuk mendaki gunung ini ada beberapa jalur yang bisa digunakan yaitu melalui Bumi Perkemahan atau Wanawisata Situs Batu Kuda (Kab. Bandung), Palintang (Ujung Berung, Kab. Bandung), Baru Beureum/Manyeuh Beureum, Jatinangor."

Baiklah, saat nya menceritakan perjalanan kami tim PETA / HACP saat mendaki gunung Manglayang. Berawal dari perencanaan pendakian bersama rekan rekan saat akhir pekan di awal bulan September. Semula kami akan mendaki sebuah gunung yang berada di Jawa Barat juga yaitu Gunung Gede. Namun, masih di tutupnya jaur pendakian ke Gunung Gede, menjadikan kami untuk mengurungkan niat tersebut. Sempat berdiskusi beberapa hari untuk mencari gunung pengganti gunung Gede, akhirnya kami putuskan dan sepakat bahwa gunung yang akan di daki adalah Gunung Manglayang 1818mpdl.

Sabtu
05 September 2015

Seperti biasanya, sebelum melakukan pendakian kami mempersiapkan segala macam logistik yang di perlukan saat mendaki Gunung Manglayang. Tak menyepelekan gunung yang akan di daki itu sebuah gunung yang super tinggi menjulang, hutan yang lebat, maupun sebuah bukit. karena, resiko nya tetap sama, tetap berada di alam terbuka yang memiliki potensi kecelakaan, hewan hewan liar, dll.

Pendakian akan dilakukan oleh empat orang yaitu Rizal, Ujey, Genta, dan Mas kokon.

Pukul 12.00 wib
Rizal, Ujey dan Genta melakukan persiapan logistik di rumah nya Rizal di daerah Purwakarta.

Persiapan logistik dan makanan untuk pendakian kali ini tidak perlu ekstra, karena hanya akan dilakukan satu hari satu malam saja.

Pukul 14.00 wib
Rizal, Ujey dan Genta Berangkat menuju bandung menggunakan motor untuk menjemput 1 orang lagi yaitu mas kokon di daerah cibaduyut yang sudah stand by di sana.

Pukul 15.00 WIB 
kami bertiga mampir di sebuah tempat makan di daerah Cimahi untuk makan siang. 

Pukul 17.30 WIB
kami bertiga mengurus beberapa urusan pribadi sebelum melanjutkan perjalanan ditambah dengan melaksanakan sholat Ashar meskipun telat dan menunggu waktu magrib.

Pukul 18.30 WIB
Setelah Selesai melaksanakan sholat magrib, baruah kami betiga berangkat ke Cibaduyut untuk bertemu dengan Mas Kokon.
setibanya di Tempat nya Mas Kokon, kami berempat melakukan breafing sederhana mengenai logistik, makanan dan jalur yang akan kami lalui untuk menuju ke puncak Gunung Manglayang.
Beberapa logistik tim yang kami bawa adalah Tenda 2P (untuk 2 orang) sebanyak 2 buah, kompor, Gas Cook, Nesting, dan Flysheet. Selebihnya adalah  makanan untuk 4 orang 2 kali makan (makan malam dan makan pagi), dan tak lupa pula mengecek seluruh perlengkapan pribadi seperti Bandara, Sepatu, Jaket, makanan ringan, alat navigasi, P3K, Matras, dll.

Pukul 19.30 WIB
Semua perlengkapan sudah berada didalam Keril masing masing. saatnya untuk berangkat menuju basecamp kiara payung menggunakan dua buah motor. Basecamp Kiara Payung dekat dengan IPDN atau ITB Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Perjalanan di tembuh selama 1,5jam karena saat itu adalah malam minggu sehingga jalanan sangat padat.

Pukul 21.00 WIB
Kami sampai di basecamp Kiara Payung. Kami membawa motor hingga sampai ke Warung warga yang berada di basecamp awal pendakian. untuk diketahui, jalanan dari mulai masuk Kiara Payung sampai ke warung basecamp ini yaitu jalanan menanjak bebatuan, sehingga harus berhati hati untuk membawa kendaraannya. 
Jika kendaraan tidak sanggup menanjak sampai basecamp, ada alternatif tempat parkir dibawah sebelum menanjak ke basecamp ada sebuah warung juga dan menyediakan lahan parkir bagi para pendaki.
Setibanya di warung basecamp kiara payung, lalu kami menitip motor si parkiran warung. kami pun menyempatkan untuk mengganjal perut, makan gorengan di warung tersebut, ngopi, dan mempersiapkan diri untuk pendakian malam. Tak lupa juga untuk mengecek senter dan headlamp sebagai senjata kami dalam pendakian di malam hari. 




Pukul 21.30 WIB
Saatnya memulai pendakian. Berdoa dan mulailah pendakian dengan ketinggian awal pendakian yaitu 1100mpdl. 

Genta mengambil posisi di paling depan, disusul oleh Rizal dan mas kokon. Sedangkan Ujey menjadi sweeper yang berada di paling belakang. 

Trek pendakian gunung manglayang, di awal pendakian saja sudah sangat menantang, radius tanjangan sangat curam, tidak adanya bonus. Membuat tim beberapa kali break untuk menghela nafas, dan meneguk air untuk menghilangkan lelah. 


Trek Gunung Manglayang diawali dengan bebatuan lalu berubah menjadi tanah merah kering yang memiliki debu yang sangat tebal. Disarankan untuk membawa masker, karena debu yang tebal akan mengganggu pernafasan aaat mendaki. 

Gunung manglayang tidak memiliki pos pemantauan seperti gunung lain pada umum nya karena trek yang tidsk begitu jauh. 

Beberapa menit mendaki, kami menemukan pertigaan yang memiliki petunjuk jika mengambil ke kanan akan menuju puncak manglayang. Jika mengambil jalur kiri, maka akan tiba di puncak bayangan. 

Kami berempat mengambil jalur kiri untuk menuju ke puncak bayangan. Kenapa demikian? Karena kami memutuskan untuk camp disana dan pagi nya hendak untuk menikmati sunrise di puncak bayangan. Kami memilih puncak bayangan sebagai lokasi sunrise karena puncak bayangan memiliki pemandangan yang terbuka. Dibanding dengan top puncak manglayang yang tertutup oleh rimbun nya pepohonan. 

Pukul 22.00 WIB begitu terjal nya jalur gunung manglayang, namun akhirnya kami tiba juga di puncak bayangan dengan mode kelelahan ditambah udara yang cukup dingin. sebelum Kami beristirahat disini, kami sesegra mungkin mencari area untuk mendirikan dua buah tenda. Daerah sekitar puncak bayangan sangat penuh dengan tenda tenda para pendaki, mengingat malam itu adalah malam minggu sehingga banyak para pendaki yang sama sama mendaki gunung.

Dengan mengamati sekitar dapatlah kami sebuah area kecil untuk bisa kami dirikan tenda untuk kami beristirahat. Tempat untuk mendirikan tenda kami, sebetulnya adalah daerah rawan longsor, namun kami memaksakan diri untuk mendirikan tenda karena sudah penuhnya area ini.

Ada area kosong di pusat puncak bayangan, namun oleh para pendaki lain dilarang untuk mendirikan tenda disitu, karena area itu adalah spot yang paling bagus untuk berfoto foto. 

Tanpa menunggu waktu lama, meskipun area yang kami dapat adalah area rawan longsor, termasuk jalur untuk menuju ke pusat puncak bayangan, kami segera mendirikan tenda.
Area ini sangat berdebu, ketebalan debu bisa mencapai 3-5cm.

Setelah mendirikan tenda, kami mulai untuk membuat makan malam. menu yang paling tepat, cepat dan bisa mengganjal perut adalah mie instan. Rizal mengeluarkan kompor dan gas cook, sedangkan Ujey mengeluarkan Nesting. sementara yang lainnya mengeluarkan Mie instan dan beberapa kopi untuk menghangatkan badan.


Usai menyantap makan malam, kami melaksanakan sholat isya lalu bersantai ria di puncak bayangan. 

Pemandangan malam di puncak bayangan sangat indah. Citi light Kota Bandung sangat jelas dari sini. Bintang bintang sangat ramai dengan bantuan sinar rembulan yang buat suasana malam semakin indah.

Inilah suasana yang kami idamkan. suasana penat di pekerjaan, jalanan yang macet, dan hirup pikuk penuh stress akhirnya mencair dalam suasana malam itu. Suasana damai, sejuk, hening, bunyi serangga hutan, bintang yang ramai, bulan yang menyinari kegelapan malam. 

Beberapa jam berlalu, mata sayup sayup mengarahkan ke tenda. Kamipun menyudahi suasana seperti itu dan masuk kedalam tenda. Menggelar matras, menggunakan Jaket, sleeping bag dan beristirahat.

6 September 2015
Pukul 05.00 WIB
Keberisikan diluar tenda semakin menggaduh, saat kami melihat jam ternyata sudah pukul 5 subuh. Ternyata orang orang sudah mempersiapkan diri untuk menikmati sunrise di puncak bayangan.

Kami pun tak tinggal diam, kami bergegas melaksanakan sholat subuh, dan mulai mempersiapkan peralatan foto lalu mengambil spot terbaik untuk menikmati sunrise.

Beberapa menit berlalu, namun sangat disayangkan, tidak ada sunrise yang kami lihat karena tertutup oleh kabut.

Kami tidak menyesal karena pemandangan pagi hari di atas puncak bayangan tidak kalah indah, sedikit demi sedikit pemandangan bukit dan pegunungan di hadapan mata mulai jelas terlihat.

Kami menyempatkan foto foto saat itu.










Pukul 07.00 WIB
Puas dengan menikmati pemandangan pagi puncak bayangan, kami segera membuat sarapan. Memasak nasi, sarden, mie (tetep ada :D), sosis,dll.

Sarapan selesai dengan cepat dan kamipun mulai packing merapihkan seluruh isi keril, melipat tenda dan memasukan semua perlengkapan kedalam keril.

Pukul 08.30 WIB
Saat nya Summits attack menuju top puncak manglayang.
setelah semua keril terisi kembali, kami langsung meluncur ke top puncak manglayang di 1818mdpl.

Jalur menuju puncak manglayang dari puncak bayangan tidak terlalu jauh, namun jalur yang sangat curam. Awalnya kami dapati jalur menurun lalu datar dan mulailah mendaki tanpa henti hingga sampai di puncak Manglayang. Jalur pendakian mulai dipadati oleh pohon pohon tinggi, semakin naik keatas jalur yang semula tanah berdebu perlahan berganti menjati akar akar pohon yang menonjol keluar.

Sesekali kami sempatkan mengambil foto saat summits attack.








Pukul 10.00 WIB 
Tibalah kami berempat di puncak Manglayang di ketinggian 1818mdpl. Puncak yang selalu tersembunyi di rimbunnya pepohonan yang lebat, udara yang dingin, dan suasana yang asri.

Kami saling berjabat tangan mengucapkan selamat dan mengucapkan syukur karena semua sudah mencapai puncak Manglayang dengan keadaan sehat dan penuh semangat.

Puncak Manglayang adalah dataran yang luas, teduh, penuh pepohonan. Meskipun tidak bisa melihat pemandangan di luar gunung, namun suasana di puncak Manglayang sangat menyejukan suasana, nyaman dan damai.

Beberapa jam kami menikmati suasana puncak dengan penuh kegembiraan. sesekali kami abadikan moment dengan berfoto foto disekitaran puncak Manglayang.






Pukul 11.00WIB
Tak terasa waktu terus berlalu, saatnya untuk menyudahi menikmati pemandangan Manglayang yang damai. Kami bergegas merapihkan keril dan berdoa kepada tuhan yang maha kuasa untuk kelancaran perjalanan Turun gunung ke base camp lagi.
Tak boleh lupa juga, membawa sampah bekas pakai kembali turun dari gunung.
Perjalanan mennuruni gunung kami lakukan dengan sedikit berlari agar segera sampai di bawah.

Di pertengahan jalan kami dapati pertigaan yang jika kami ambil jalur kanan maka kami akan kembali ke puncak bayangan. Dan jika mengambil ke kiri maka kami akan langsung menuju ke basecamp.

kami mengambil jalur kiri.




Pukul 12.30 WIB
Sampailah kami di basecamp kiara payung kembali. kami beristirahat di warung tempatkami menitipkan motor. membayar sewa penitipan motor seharga 5000 Rupiah saja. Dan memesan beberapa makanan ringan sambil beristirahat.

Pukul 13.00 WIB
kami melanjutkan pulang ke rumah masing masing.

Sebuah perjalanan singkat namun berkesan.
Terima kasih kepada Gunung Manglayang karena telah membolehkan kami mampir ke Puncakmu.

Salalm Lestari,

Posted By
Rizal Riansyah